Di sekolah, ia dikenal sebagai si galak dan serius. Padahal, di rumah, salah satu tugasnya adalah membantu ibunya memasak di dapur.
TERPIKAT SAMBAL BAJAK BUATAN IBU
Meskipun selalu membantu di dapur, ia tak pernah mendapat bagian terbaik dari seekor ayam goreng. Bagian paha atau dada hanya diperuntukkan bagi sang ayah dan anak kesayangan ibunya, sang abang. Namun, ia tak pernah protes atau merasa diperlakukan tak adil. Hanya menikmati kepala atau sayap ayam bagiannya pun, di tambah sambal bajak yang mak nyus, selalu bisa menghibur hatinya.
Itulah sepenggal kenangan masa kecil Bondan Haryo Winarno (57), yang dikenal sukses di berbagai profesi. Ia pernah menjadi pe nulis, pemimpin redaksi majalah SWA dan harian Suara Pembaruan, menjadi eksekutif perusahaan swasta di dalam maupun luar negeri, serta menjadi konsultan di berbagai lembaga terhormat, termasuk Bank Dunia. Ia pun aktif di berbagai organisasi profesi maupun kemasyarakatan.
Namun, wafatnya sang ayah dan abangnya di usia relatif muda, membuat Bondan memutuskan pensiun dini, meninggalkan berbagai jabatan bergengsi demi menikmati hidup. Salah satunya, memuaskan kesukaannya jalan-jalan dan mencicipi berbagai makanan. Tak ada yang menyangka, hobinya itu akhirnya memberikan kesuksesan baru baginya, yaitu sebagai pelopor wisata kuliner.
ANAK KESAYANGAN AYAH
Bondan terlahir sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayah nya, Imam Soepangat, bertugas sebagai kepala dinas metrologi, yang mengurusi matrik sistem di Departemen Perdagangan. Sejak kecil, ia selalu diingatkan sang ayah untuk berpikiran terbuka, belajar bergaul, mengedepankan logika, dan menanamkan kejujuran. “Salah satunya, Ayah hanya menggunakan mobil dinas untuk urusan kantor. Untuk urusan pribadi, termasuk jalan-jalan, beliau cukup menggunakan sepeda,” ungkap Bondan.
Siang itu, ia menerima femina di teras di depan kolam renang, di rumahnya yang lapang dan indah, dengan bangunan bergaya Amerika modern. Di meja terhidang pisang bakar, pisang rebus, dan satu poci teh earl grey classic dengan oil of bergamot dari salah satu koleksi teh terkenal the Fortnum & Mason 1707, Piccadilly, London.
Bondan merasa, dialah yang paling disayang ayahnya, dibanding ketujuh saudaranya. “Karena, beliau selalu memberikan tantangan untuk saya. Salah satunya, saya ditantang untuk melabur rumah di saat liburan, dengan diberi upah yang besar. Cukup untuk beli baju dan sepatu,” kenang Bondan, dengan senyum dan pandangan menerawang.
Namun, meski dijelaskan secara halus, Bondan merasa dirinya bukan anak kesayangan ibunya, Ismien Soepangat. Meskipun tak tahu apa sebabnya, diakui Bondan, abangnya memang lebih ganteng dibanding dirinya yang berkulit hitam. “Saya ingat, Ibu sering memperingatkan saya untuk tidak memakai baju kuning, karena tidak cocok dengan kulit saya yang hitam. Maka, ketika saya sudah bisa mencari uang, saya beli baju kuning yang banyak, ha...ha...ha...,” ucap pria yang juga dikenal sebagai ‘Mr. Dresscode’, karena selalu menyesuaikan pakaiannya dengan dresscode yang tercantum di undangan, ini.
Sejak kecil, Bondan sudah hobi membaca. Di usia 6 tahun, ia sudah berlangganan majalah Si Kuncung dan majalah Minggu Pagi. Kesukaannya sama dengan ayahnya, yang juga gemar mencari majalah-majalah gratis dari berbagai kedutaan. Salah satunya dari Rusia. “Tapi, kami terpaksa membakarnya saat terjadi peristiwa G30S PKI, agar tak dikait-kaitkan dengan ajaran komunisme,” cerita Bondan.
Hobi membaca itu pula yang antara lain membuat Bondan memenangkan sayembara mengarang yang diadakan majalah Si Kuncung, di usia 10 tahun. “Saya bukan pengkhayal. Jadi, saya menceritakan kehidupan seorang masinis dari hasil wawancara di stasiun. Tokohnya adalah masinis ketiga yang mau saya wawancarai,” kenang Bondan, tersenyum.
Saat duduk di bangku SMP, rasa cinta Bondan pada buku amat besar. Perpustakaan Negeri Semarang adalah salah satu tempat favo ritnya. ”Tetapi, saya hanya datang ketika liburan, karena perpustakaan itu letaknya di dekat sekolah. Malu kalau ketahuan teman-teman, karena saya bakal diledek terlalu serius,” ucapnya, terkekeh.
Bondan memang terkesan serius bagi sebagian teman-temannya. Pendapat itu juga diungkapkan oleh salah seorang teman sekelasnya di SMP I Semarang, Etti Susilowati (Susi). “Seingat saya, dia itu selalu serius. Wajahnya juga kelihatan galak karena sering cemberut. Kalau diingat-ingat lagi, cuma ada dua orang yang menyayangi Bondan. Pertama, Ibu Tati, guru bahasa Indonesia yang paling ditakuti para murid, karena Bondan pintar mengarang dan membaca puisi. Kedua, Sri Bintang Setiati (almarhum), teman kami yang juga pencinta sastra,” ucap Susi, yang kini menjadi wakil Bondan di Paguyuban SMP 1 Semarang.
Susi ingat, sesekali Bondan juga ikut bersama teman-temannya jajan pecel Mbok Jah yang enak sekali dan es kombor (es campur yang dipenuhi serutan es berwarna merah jambu) di daerah Poncol, Semarang. Susi juga menyebutkan, Bondan bukan termasuk murid populer, tetapi dikenal memiliki sifat kepemimpinan yang tinggi. Ia mampu mendelegasikan tugas kepada teman-temannya. Karenanya, ia kerap dipilih sebagai ketua kelas.
Bondan juga sering diminta jadi kepala regu di kegiatan pramuka. Kekagumannya terhadap Lord Baden Powell, seorang jenderal dari cabang intelijen yang kemudian mendiirikan gerakan kepanduan, membuatnya menjadi seorang pramuka yang aktif. Bondan bahkan pernah mendapatkan penghargaan karena berhasil memasak nasi di dalam batok kelapa. Bondan tercatat pernah mendapat penghargaan ketika mengikuti World Boy Scout Jamboree XII, di Idaho, USA, 1967. Kegiatannya di pramuka membuat Bondan terlihat makin serius dibandingkan teman-temannya.
Padahal, Bondan mengakui, sesungguhnya ia tak seserius itu. Saat masih terhitung bocah, ia bahkan sudah jatuh cinta pada teman sekelasnya. Sayangnya, cinta itu tak pernah berani diungkapkannya. Suatu hari, gadis itu sakit selama beberapa hari. Ketika akhirnya ia sembuh dan kembali bersekolah, hati Bondan senang bukan main. Tak disangka, keesokan harinya gadis itu tak masuk lagi karena kembali sakit, dan akhirnya meninggal dunia. “Hati saya begitu sedih. Saat itu saya menyadari, life is fragile,” ujar Bondan, serius.


00.15
Admin
0 komentar:
Posting Komentar